oleh

Tradisi Arema FC Menjaga Dan Mencetak Pemain Ngotot

-berita bola-224 views

   Malang – Arema FC mengalami start yang kurang mulus diawal Shopee Liga 1 2020. Tiga laga pertama musim ini berakhir dengan satu kemenangan dan dua kekalahan. Singo Edan harus puas dengan mengoleksi tiga poin di peringkat ke-12 dalam klasemen Liga 1 2020.

Namun, ada satu ha;l positif yang berhasil didapatkan oleh Arema FC pada awal musim ini. Singo Edan kembali mengorbitkan pemain dengan karakter ngototkhas Malang.

Kushedya Hari Yudo yang menjadi pemain lokal Arema FC pada musim ini merupakan satu contohnya. Karier Yudo sudah terlihat cemerlang sejak memperkuatv PSS Sleman pada musim lalu.

Kini Yudo langsung berkibar dengan mencetak dua gol pada pertandingan pertama Arema FC di Shopee Liga 1 2020. Tercatat pemain asli Malang ini pun selalu menjadi pemain int dalam tiga pertandingan yang sudah dijalani oleh Singo Edan, dimana hal itu tentu memberinya kesempatan untuk dilirik memperkuat Timnas Indonesia.

Ini bukan pertama kalinya Arema FC mengorbitkan pemain lokal Malang. Pada musim lalu, Arema FC mengorbitkan Dedik Setiawan. Striker yyang sebelumnya lekat dengan image pemain tarkam itu sukses bersama Singo Edan hingga menembus Timnas Indonesia. Sayabf, cedera lutut yang dialaminya hingga naik ke meja operasi membuat musimnya bersama Arema FC berakhir tidak manis.

Namun, dua pemain tersebut sudah bisa menjadi contoh bahwa mesin perburuan pemain Arema FC yang berkarakter ngotot sudah berjalan baik. General Manager Arema FC, Ruddy Widodo, mengakui jika itu tidak lepas dari peran tim pelatih.

Pada musim ini, tiga asisten pelatih Arema FC memang merupakan bagian dari perjalanan Singo Edan ke kancah sepak boala nasional. Charis Yulianto, Kuncoro, dan Singgih Pitono, pernah memperkuat Singo Edan kala masih aktif bermain.

Setelah ditelusuri dari para asisten pelatih, ternyata mereka memang punya insting untuk mengorbitkan putra daerah. Seperti yang terjadi saat awal perekrutan Dedik di pertengahan musim 2016 silam.

“Saya dulu tahu Dedik waktu dia main ditarkam. saya lihat dia punya cara main yang ngotot dan cocok di Arema. Alhamdulillah ternyata memang bisa bagus di Arema,” jelas Kuncoro.

Tidak jauh beda dengan gelandang Jayus Hariono. Pemain alumni Persekam Metro FC ini juga terpantau ketika main di luar kompetisi resmi. Sebelum gabung Arema, Dedik dan Jayus hanya punya pengalaman main di Liga 2, yang pertandingannya jarang disiarkan secara langsung di televisi.

Bakat mereka justru terlihat ketika main tarkam. Tapi, kedua pemain ini tetap harus melewati proses seleksi lebih dulu. Dedik lolos pada musim 2016, sedangkan Jayus pada 2018 lalu.

Sementara proses perekrutan Yudo agak berbeda. Dia melewati proses panjang berkelana di Liga 2 lebih dulu selama beberapa tahun. Baru musim lalu dia naik ke kasta tertinggi dan sekarang langsung jadi pemain inti Arema.

Tapi, sejak jauh-jauh hari, Arema FC memang sudah mengamati bakatnya. Apalagi dia merpakan alumni Akademi Arema. Jadi, tidak sulit bagi Arema untuk memulangkannya.

Ke depan, setidaknya tim pelatih Arema sudah mengantogi sejumlah pemain berkarakter ngotot. Sehingga saat awal musim, mereka tinggal menyodorkan kepada pelatih kepala apakah pemain yang bersangkutan sesuai dengan kerangka tim atau tidak.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed